MAKALAH
Tugas ini diajukan untuk memenuhi
salah satu tugas Geografi
“SUNGAI”
Kelas
X3
Disusun
Oleh :
SMA NEGERI 1 CIHAURBEUTI
TAHUN AJARAN 2014/2015
LEMBAR PENGESAHAN
Makalah
ini yang berjudul “Sungai” telah disahkan dan disetujui pada :
Hari :
Tanggal :
Disetujui
oleh :
Guru
Bidang Studi Wali
Kelas
Dra.Hj.Titin Nurajmiatin, M.Si Dadang
Hendrayana, S.Pd
NIP.19671101 199303 2 007 NIP.19800301 201408 1 001
NIP.19671101 199303 2 007 NIP.19800301 201408 1 001
Kepala
Sekolah
SMA
NEGERI 1 CIHAURBEUTI
OHAN,
S.Pd, S.IP, MM
NIP.19630518 198403 1 003
NIP.19630518 198403 1 003
Syukur Alhamdulillah, segala puji syukur kami hantarkan
kepada Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan yang tak
terhingga kepada manusia selaku hamba-Nya. Dan tak lupa pula, shalawat beriring
nada salam mudah-mudahan tercurahkan kepada baginda kita Nabi Besar Muhammad
SAW,yang telah membawa umatnya ini dari
alam jahiliah kealam yang penuh dengan cahaya keimanan, begitu juga kepada
keluarga dan para sahabat beliau. Selanjutnya hanya dengan taufik dan hidayah-Nya,maka
saya dapat menyelesaikan makalah geografi
ini dengan tepat waktu.
Saya menyadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini tidak luput dari kekurangan yang perlu
disempurnakan.Karenanya saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua
pihak agar dapat memperbaiki segala
kekurangan yang ada.
Akhirnya hanya kepada Allah jualah
kita kembali,dengan iring do’a semoga makalah ini dapat digunakan untk semua
pihak dan bermanfaat.
Amiin Ya Rabbal’alamin.
Cihaurbeuti,
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sungai
2.2 Klasifikasi Sungai
2.2.1 Klasifikasi Sungai Berdasarkan Pola Alirannya
2.2.2 Klasifikasi Sungai Berdasarkan Sumber Air
2.2.3 Klasifikasi Sungai Berdasarkan Arah Alirannya
2.2.4 Klasifikasi
Sungai Berdasarkan Keadaan Aliran Airnya
2.2.5 Klasifikasi
sungai berdasarkan struktur batuan yang di laluinya
2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Karakteristik Sungai
2.3.1 Debit Sungai (volume air)
2.3.2 Kemiringan Sungai (Gradient)
2.3.3 Lebar Sungai
2.4 Struktur Sungai
2.4.1 Alur dan
Tanggul Sungai
2.4.2 Dasar dan Gradien Sungai
2.4.3 Bantaran
Sungai
2.4.4 Tebing
Sungai
2.5 Lingkungan Bio-fisik Sungai
2.5.1 Vegetasi
Spesifik Bantaran Sungai
2.6 Proses Terbentuknya Sungai
2.7 Fungsi Sungai
2.8 Pencemaran pada Sungai
2.8.1 Dampak Pencemaran Sungai
2.8.2 Upaya Mengatasi Pencemaran Sungai
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
3.2 Saran
LAMPIRAN
1.1 Latar belakang
Sungai adalah bagian permukaan bumi
yang letaknya lebih rendah dari tanah di sekitarnya dan menjadi tempat
mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau, rawa atau ke sungai yang lain.
Sungai merupakan tempat mengalirnya air tawar.Air yang mengalir lewat sungai
bisa berasal dari air hujan, bisa berasal dari mata air atau bisa juga berasal
dari es yang mengalir (Gletser).Ke mana air itu mengalir? Air mengalir bisa ke
laut, ke danau, ke rawa, ke sungai lain dan bisa juga ke sawah-sawah. Ada
bermacam-macam jenis sungai.Berdasarkan sumber airnya sungai dibedakan menjadi
tiga macam yaitu sungai hujan, sungai gletser dan sungai campuran.
Permukaan bumi secara alami
mengalami erosi begitu muncul di permukaan bumi ( chorley, 1984 ). Salah satu
faktor penting penyebab terjadinya erosi yang bekerja secara terus menerus
untuk mengkikis permukaan bumi, hingga sama dengan permukaan laut adalah air.
Air adalah benda cair yang senantiasa bergerak kearah tampat yang lebih
rendah,yang di pengaruhi oleh gradien sungai dan gaya gravitasi bumi. Menurut
sandi (1985),
dalam pergerakannya air selain melarut kan sesuatu, juga mengkikis
bumi,sehingga akhir nya terbentuk lah cekungan di mana air tertampung melalui
saluran kecil dan atau besar, yang di sebut dengan istilah alur sungai (badan
sungai). Lebih jauh di kemukakan bahwa aliran sungai di bagian luar nya di
batasi oleh bagian batuan yang keras yang di sebut dengan tanggul sungai.
Saluran air kecil dan atau besar
yang saling ketemu membentuk pola aliran sungai tertentu, yang di pengaruhi
oleh jenis batuan dan bentuk morfologi medan (Thombury, 1954; barstra, 1982).
Lebih jauh sandi (1985) menyatakan bahwa jenis batuan dan morfologi medan badan
sungai, selain mempengaruhi kerapatan aliran sungai, juga dapat mencirikan karakteristik
sungai yang meliputi perkembangan profil, pola aliran dan genetis sungainya.
Didaerah yang tersusun oleh batuan intrusif, dengan tekstur
kasar,
menunjukan kerapan aliran sungai yang rendah. Namun sebaliknya pada aliran
sungai yang di dominansi oleh batuan sedimen, menunjukan kerapan yang tinggi
(Zuidam,1983 dan Sandy, 1985).
Sungai juga merupakan tempat
sumberdaya alam, yang di dalamnya banyak terkandung berbagai jenis ikan air
tawar dan berbagai jenis tumbuhan air.Kemudian sungai bisa juga di jadikan
sebagai alat transportasi dan bisa juga di jadikan sarana ekonomi.Pada intinya
sungai merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk beraktivitas.
1. Apa yang dimaksud dengan sungai ?
2’ Sebutkan klasifikasi sungai?
3. Apa yang di maksud dengan pola
sungai ?
4. Bagaimana hubungan antara
karakteristi sungai dengan pola terbentuknya sungai?
5. Bagaimana terbentuknya sungai ?
1. Membantu mahasiswa mengetahui
klasifikasi sungai.
3. Untuk mengetahui karakteristik
sungai.
4. Untuk membantu mahasiswa memahami
fungsi sungai.
5. Membantu mahasiswa memahami proses
terbentuknya sungai.
Sungai adalah aliran air tawar yang
mengalir melalui terusan alami dan kedua pinggirnya di batasi tanggul-tanggul
alami yang akhirnya mengalir kelaut atau sungai induknya.Sungai merupakan jalan air alami.mengalir menuju Samudera,
Danau atau laut, atau ke sungai yang lain.
Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir
meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Dengan melalui
sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar
seperti danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan
bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan
kepada saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan.Penghujung
sungai di mana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai.
Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi.
Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan,embun, mata
air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air sungai juga
berasal dari lelehan es / salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen
dan polutan.
Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan
air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan objek
wisata sungai. Di Indonesia saat ini terdapat 5.950 daerah aliran sungai (DAS).
Perlu juga dikemukakan bahwa sodetan sungai kini telah
tergolong sebagai alternatif yang primitif jika ditinjau dari konsep ekohidrologi, serta tidak selaras dengan
kesepakatan dunia pada KTT Bumi (Earth
Summit) di
Johannesburg bulan September 2002 yang
mengklasifikasikan sodetan sungai (river diversion) sebagai pembangunan
yang tidak berkelanjutan.
Didalam klasifikasi sungai atau
karakteristik sungai ini akan dibahas bermacam-macam jenis sungai berdasarkan
karakteristik dan polanya.
Dengan berjalannya waktu, suatu sistem jaringan sungai akan
membentuk pola pengaliran tertentu di antara saluran utama dengan
cabang-cabangnya dan pembentukan pola pengaliran ini sangat ditentukan oleh
faktor geologinya. Pola pengaliran sungai dapat diklasifikasikan atas dasar
bentuk dan teksturnya.Bentuk atau pola berkembang dalam merespon terhadap
topografi dan struktur geologi bawah permukaannya.Saluran-saluran sungai
berkembang ketika air permukaan (surface runoff) meningkat dan batuan dasarnya
kurang resisten terhadap erosi.
Sistem fluviatil dapat menggambarkan perbedaan pola geometri
dari jaringan pengaliran sungai.Jenis pola pengaliran sungai antara alur sungai
utama dengan cabang-cabangnya di satu wilayah dengan wilayah lainnya sangat
bervariasi.Adanya perbedaan pola pengaliran sungai di satu wilayah dengan
wilayah lainnya sangat ditentukan oleh perbedaan kemiringan topografi, struktur
dan litologi batuan dasarnya. Pola pengairan yang umum dikenal adalah sebagai
berikut :
a.
Pola Dendritik
Pola
aliran sungai dendritik ini seperti percabangan pohon, percabangan tidak
teratur dengan arah dan sudut yang beragam.Berkembang di batuan yang homogen
dan tidak terkontrol oleh struktur, umunya pada batuan sedimen dengan
perlapisan horisontal, atau pada batuan beku dan batuan kristalin yang
homogen.Atau pola dendritik juga dapat di artikan sebagai pola aliran
yang cabang-cabang sungainya menyerupai struktur pohon.Pada umumnya pola aliran
sungai dendritik dikontrol oleh litologi batuan yang homogen.Pola aliran
dendritik dapat memiliki tekstur/kerapatan sungai yang dikontrol oleh jenis
batuannya. Sebagai contoh sungai yang mengalir diatas batuan yang tidak/kurang
resisten terhadap erosi akan membentuk tekstur sungai yang halus (rapat)
sedangkan pada batuan yang resisten (seperti granit) akan membentuk tekstur
kasar (renggang).
Tekstur sungai didefinisikan sebagai panjang sungai per satuan luas.
Mengapa demikian ? Hal ini dapat dijelaskan bahwa resistensi batuan terhadap
erosi sangat berpengaruh pada proses pembentukan alur-alur sungai, batuan yang
tidak resisten cenderung akan lebih mudah dierosi membentuk alur-alur sungai.
Jadi suatu sistem pengaliran sungai yang mengalir pada batuan yang tidak
resisten akan membentuk pola jaringan sungai yang rapat (tekstur halus),
sedangkan sebaliknya pada batuan yang resisten akan membentuk tekstur kasar.
Pola aliran ini biasanya terdapat didaerah daratan atau didaerah pantai dan
juga dapat dijumpai didaerah plato.
b.
Pola Radial
Pola aliran radial adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar
secara radial dari suatu titik ketinggian tertentu, seperti puncak gunung api
atau bukir intrusi. Pola aliran radial juga dijumpai pada bentuk-bentuk bentang
alam kubah (domes) dan laccolith. Pada bentang alam ini pola aliran sungainya
kemungkinan akan merupakan kombinasi dari pola radial dan annular.
Pola
aliran radial dibedakan menjadi dua, yaitu radial sentrifugal dan radial
sentripetal.Pola aliran radial sentrifugal adalah pola aliran yang meninggalkan
pusat, seperti di daerah vulkan atau gunun berbentuk kerucut.Pola aliran radial
sentripetal merupakan pola aliran yang menuju pusat, seperti pada daerah basin
dan ledokan.Keuntungan dari sungai ini berpengaruh penting terhadap para petani
yang berada di kaki gunung dan sekitarnya.
c.
Pola Rectangular
Pola rectangular umumnya berkembang pada batuan yang resistensi terhadap
erosinya mendekati seragam, namun dikontrol oleh kekar yang mempunyai dua arah
dengan sudut saling tegak lurus.Kekar pada umumnya kurang resisten terhadap
erosi sehingga memungkinkan air mengalir dan berkembang melalui kekar-kekar
membentuk suatu pola pengaliran dengan saluran salurannya lurus-lurus mengikuti
sistem kekar.Pola aliran rectangular dijumpai di daerah yang wilayahnya
terpatahkan.Sungai-sungainya mengikuti jalur yang kurang resisten dan
terkonsentrasi di tempat dimana singkapan batuannya lunak.Cabang-cabang
sungainya membentuk sudut tumpul dengan sungai utamanya.Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa pola aliran rectangular adalah pola aliran sungai yang
dikendalikan oleh struktur geologi, seperti struktur kekar (rekahan) dan sesar
(patahan).Sungai rectangular dicirikan oleh saluran-saluran air yang mengikuti
pola dari struktur kekar dan patahan.
d. Pola Trellis
Geometri dari pola aliran trellis adalah pola aliran yang menyerupai bentuk
pagar yang umum dijumpai di perkebunan anggur. Pola aliran trellis dicirikan
oleh sungai yang mengalir lurus di sepanjang lembah dengan cabang-cabangnya
berasal dari lereng yang curam dari kedua sisinya. Sungai utama dengan
cabang-cabangnya membentuk sudut tegak lurus sehingga menyerupai bentuk pagar.
Pola aliran trellis adalah pola aliran sungai yang berbentuk pagar (trellis)
dan dikontrol oleh struktur geologi berupa perlipatan sinklin dan antilin.
Sungai trellis dicirikan oleh saluran-saluran air yang berpola sejajar,
mengalir searah kemiringan lereng dan tegak lurus dengan saluran utamanya.
Saluran utama berarah searah dengan sumbu lipatan.
e. Pola Sentripental
Pola aliran sentripetal merupakan ola aliran yang berlawanan dengan pola
radial, di mana aliran sungainya mengalir ke satu tempat yang berupa cekungan
(depresi). Pola aliran sentripetal merupakan pola aliran yang umum dijumpai di
bagian barat dan barat laut Amerika, mengingat sungai-sungai yang ada mengalir
ke suatu cekungan, di mana pada musim basah cekungan menjadi danau dan
mengering ketika musin kering.Dataran garam terbentuk ketika air danau
mengering.
f. pola Annular
Pola
aliran annular adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara
radial dari suatu titik ketinggian tertentu dan ke arah hilir aliran kembali
bersatu.Pola aliran annular biasanya dijumpai pada morfologi kubah atau intrusi
loccolith.
g. Pola Paralel
Sistem
pengaliran paralel adalah suatu sistem aliran yang terbentuk oleh lereng yang
curam/terjal. Dikarenakan morfologi lereng yang terjal maka bentuk
aliran-aliran sungainya akan berbentuk lurus-lurus mengikuti arah lereng dengan
cabang-cabang sungainya yang sangat sedikit. Pola aliran paralel terbentuk pada
morfologi lereng dengan kemiringan lereng yang seragam.Pola aliran paralel
kadangkala mengindikasikan adanya suatu patahan besar yang memotong daerah yang
batuan dasarnya terlipat dan kemiringan yang curam.Semua bentuk dari transisi
dapat terjadi antara pola aliran trellis, dendritik, dan paralel.
Apa dilihat
dari sumber air yang didapat, sebuah sungai bisa dikatagorikan kedalam tiga
kelompok yaitu sebagai berikut :
a. Sungai Hujan
Sungai ini
memiliki air yang bersumber dari dua sebab, yaitu sebab yang pertama dari air
hujan dan sumber yang kedua dari mata air.Jika bersumber dari air hujan, sungai
tersebut hanya mengalir pada musim penghujanan saja dan lebih berfungsi sebagai
pengendali air hujan saja.Contohnya bisa kita lihat sungai-sungai di pegunungan
kapus, dan gunung kidul.
b. Sungai Gletser
Air yang
mengalir pada sungai gletser ini berasal dari proses melelehnya es. Meski
demikian tidak semua air mengaliri sungai berjenis glatser hanya berasal dari
lelehan es secara murni.Biasanya, sungai ini memiliki hulu di bagian pegunungan
yang atasnya terdapat salju. Contoh dari sungai glatser ini adalah sungai
gangga yang ada di india. Sungai ini memiliki hulu di pegunungan Himalaya yang
di tutupi oleh salju.Selain itu sungai phein di negara Jerman yang memiliki
hulu dipegunungan Alpen bisa juga di katakan sungai glatser. Sedangkan di
Indonesia, sungai yang bisa di kategorikan sebagai sungai ini adalah sungai
Mamberamo di Papua.
c. Sungai
Campuran
Sungai campuran ini memiliki sumber air lebih dari
satu macam sumber.Yaitu berasal dari air hujan, mata air dan juga lelehan es.
Di indonesia bisa kita jumpai sungai seperti ini di Papua yaitu sungai Digul
dan sungai Mambarano.
Berdasarkan
arah aliran yang dilaluinya, sungai dibedakan sebagai berikut:
a. sungai konsekuen
a. sungai konsekuen
Adalah sungai yang mengalirnya sesuai dengan kemiringan
batuan yang dilaluinya.Sungai jenis ini banyak terdapat di daerah gunung merapi
berumur muda atau stadium awal. Contoh: sungai progo di jawa tengah ketika
menuruni lereng gunung merapi.
b. sungai subsekuen
Adalah sungai yang alirannya tegak lurus pada sungai
konsekuen dan bermuara pada sungai konsekuen, misalnya sungai opak di
yogyakarta.
c. sungai obsekuen
Adalah sungai yang mengalirnya berlawanan dengan arah
kemiringan lapisan batuan daerah tersebut dan merupakan anak sungai subsekuen.
d. sungai resekuen
Merupakan anak sungai subsekuen dan searah dengan sungai
konsekuen
e. sungai insekuen
Adalah sungai yang aliranya teratur dan tidak terikat dengan
lapisan batuan yang dilaluinya.
Berdasarkan keadaan aliran airnya,
sungai dibedaka n sebagai berikut:
a. sungai periodik(intemiten)
a. sungai periodik(intemiten)
Adalah
sunngai yan hanya berair pada musim penghujan
Contoh:sungai-sungai yang terdapat di pulau jawa dan nusa tenggara.
Contoh:sungai-sungai yang terdapat di pulau jawa dan nusa tenggara.
b. sungai episodik(perenial)
Adalah sungai yang alirannya hampir sama, baik pada musim
kemarau maupun musim hujan. Contoh: sungai-sungai di sumatera, kalimantan, dan
papua.
Berdasarkan struktur lapisan batuan yang dilaluinya, sungai
dibedakan menjadi:
a. sungai
anteseden
Adalah
sungai yang dapat mengimbangi pengangkatan daerah lapisan batuan yang
dilaluinya.Jadi setiap terjadi pengangkatan, air sungai mengikisnya.
b. sungai
epigenesa
Adalah
sungai yang terus menerus mengikis batuan yang dilaluinya sehingga dapat
mencapai daerah batuan asli atau batuan induknya.Terjadinya sungai epigenesa
diawali ketika daerah tersebut mengalami penurunan sehingga terjadi
sedimentasi. Contoh; sungai colorado mengikis batuan selama jutaan tahun,
sehingga mencapai batuan induk. Akibat sungai ini terbentuklah Grand Canon yang
terkenal di dunia.
Faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik sungai
adalah :
Debit sungai adalah besarnya aliran air persatuan
waktu, ukuran yang umumnya digunakan adalah satuan volume per detik (m3/det)
atau cubic feet second (cfs). Besarnya volume air sungai tergantung pada
daerah aliran sungai tersebut.Biasanya ukuran volume air dapat dianggap sebagai
tinggi air dan kekuatan aliran sungai.
Kondisi terbaik mengarungi sungai ketika volume air
berkisar antara 800 – 10.000 cfs (25-300 m3/det) .Sungai
dengan volume 800 – 10.000 cfs cenderung mudah dilalui, karena kendali melalui
jeram dan rintangan relatif lebih mudah dikuasai.Sebaliknya sungai besar dengan
volume diatas 40.000 cfs umumnya sulit dilalui dan dihindari.Sekali terjebak
dalam lengkungan ombak dan menabrak rintangan batu, cenderung berakibat
menghancurkan.
Ukuran volume air dapat juga untuk mengetahui ukuran
besar – kecilnya sungai, antara lain :
- Sungai kecil : (800-1000) cfs atau (25-5000) m3/det
- Sungai besar : (5000-10.000) cfs atau (125-250) m3/det
- Sungai besar sekali : volume air lebih dari
10.000 cfs
Untuk mengetahui volume air dapat melihat tinggi muka
air (biasanya terletak di tempat dekat jembatan). Kemudian disesuaikan dengan
lebar sungai atau meminta informasi pada Dinas Pengairan setempat. Dapat juga
dihitung dengan rumus :
Q = debit volume air (m3/det)
V = kecepatan arus (m/det)
A = luas penampang sungai (m3)
Tingkat kecuraman / kemiringan aliran sungai
menunjukkan nilai rata-rata penurunan dalam suatu jarak tertentu.Setiap sungai
pada jarak tertentu mempunyai tingkat kecuraman yang berbeda.Kadang tajam dan
sebaliknya mendatar.Kecuraman bisa dianggap sebagai petunjuk kasar tingkat
kesulitan dan kecepatan aliran sungai.
Tingkat kemiringan sungai yang dapat digunakan sebagai
petunjuk tingkat kecepatan aliran, antara Lain :
- Sungai dengan kecuraman 0-4 m/Km, umumnya berarus
tenang, tidak mempunyai daerah berbahaya seperti jeram
- Sungai dengan kecuraman 5-10 m/Km, umumnya
berjeram dan cukup ideal sebagai medan ORAD
- Sungai dengan kecuraman 10-15 m/Km umumnya
berbahaya untuk diarungi dengan perahu karet, akan tetapi masih
memungkinkan
- Sungai dengan kecuraman 15-20 m/Km umumnya sudah
tidak memungkinkan untuk diarungi dengan perahu karet, tetapi masih
memungkinkan untuk diarungi dengan kayak lincah
- Sungai dengan kecuraman diatas 20 m/km umumnya
tidak mungkin diarungi karena mempunyai air terjun atau jeram ganas yang
panjang dan sambung menyambung.
Kecuraman sungai di daerah hulu rata-rata lebih tinggi
daripada di daerah hilir. Semakin ke hilir sungai akan semakin landai sebelum
kemudian bermuara ke laut. Gradient sungai dapat dihitung dengan bantuan garis
kontur yang memotong sungai pada peta topografi.
Lebar penampang sungai mempengaruhi kecepatan
arus. Semakin lebar penampang sungai, kecepatan arus makin lambat,
semakin sempit penampang sungai, kecepatan arus semakin cepat.Hal ini yang juga
mempengaruhi laju perahu.
Gambar bentuk morfologi sungai
(dimodifikasi)
Keterangan :
A= Bantaran Sungai. B= Tebing Sungai
. C= Badan Sungai. D= Batas tinggi air semu. E= Daar Sungai. F= vegetasi Riparian.
Forman (1983) menyebutkan bahwa
bagian dari bentuk luar sungai secara rinci dapat di pelajari melalui
bagian-bagian dari sungai, sering yang di sebut dengan struktur sungai.
Struktur sungai dapat dilihat dari tepian aliran sungai, alur sungai, bantaran
sungai dan tebing sungai, yang secara rinci akan di jelaskan sebagai berikut :
Alur sungai adalah bagian dari muka
bumi yang selalu berisi air yang mengalir yang bersumber dari aliran limpasan (
Forman dan Gordon, 1983 ). Sandy (1985) juga menyatakan bahwa alur sungai juga
di batasi dengan batuan keras, dan berfungsi sebagai tanggul sungai.
Dasar sungai sangat bervariasi dan
sering menggambarkan atau mencerminkan batuan dasar yang keras.Jarang di
temukan bagian yang rata, kadang kala bentuknya bergelombang, dan juga ada yang
landai.Tebal tipisnya dasar permukaan sungai di pengaruhi oleh besar kecilnya
batuan.Dasar sungai dari hulu ke hilir memperlihatkan perbedaan tinggi. Dan
pada jarak tertentu atau keseluruhan dapat di sebut dengan istilah gardien
sungai yang memberikan gambaran beberapa persen rataan kemerengan sungai
dari bagian hulu ke hilir. Besaran nilai
gradien berdasakan besar terhadap laju aliran air.
Forman dan Gordon (1983) menyebutkan
bahwa bantaran sungai merupakan bagian dari struktur sungai yang sangat
rawan.Terletak antara badan sungai dengan tanggul sungai, mulai dari tebing
sungai hingga bagian yang datar.Peranan fungsinya cukup efektif sebagai
penyaring (filter) nutrien, menghambat aliran permukaan dan pengendali besaran
laju erosi.Bantaran sungai merupakan habitat tetumbuhan yang spesifik (vegetasi
riparian), yaitu tetumbuhan yang komunitasnya tertentu mampu mengendalikan air
pada saat musim penghujan dan kemarau.
Bentang alam yang menghubungkan
antara dasar sungai dengan tanggul sungai disebut dengan “tebing sungai”.Tebing
sungai umumnya membentuk lereng atau sudut lereng, yang sangat tergantung dari bentuk
medannya. Semakin terjal akan semakin besar sudut lereng yang terbentuk. Tebing
sungai merupakan habitat dari komunitas vegetasi riparian, kadangkala sangat
rawan longsor karena batuan dasarnya sering berbentuk cadas. Sandy (1985),
menyebutkan apabila ditelusuri secara cermat maka akan dapat diketahui hubungan
antara lereng tebing dengan pola aliran sungai.
Jenis vegetasi riparian di Indonesia dari bagian hilir
sampai dengan bagian hulu cukup bervariasi, dan menurut Sandy (1985) sangat
dipengaruhi oleh batuan dasar dan ketinggian tempat. Waryono (1985) menyebutkan
bahwa jenis vegetasi asli riparian yang dominan dijumpai di S. Mahakan
Kalimantan Timur meliputi: waru (Hisbiscus tiliaceus); renghas (Gluta
veluntino), cangkring (Erytrina sp), kempas (Koompasia malacensis), keciat
(Spatodea campanulata), dan bungur (Lagerstromea filamentosa). Jenis vegetasi
riparian di DKI Jakarta, tercatat 10 jenis dan nampaknya sama seperti yang
dijumpai di bantaran Citandui, Cimanuk, dan Citarum bagian tengah. Jenis-jenis
dimaksud adalah: Gluta renghas,
Lagerstromea indica, Syzygium polianthum, Vitex pubescens, Pithecelobium sp,
Hisbiscus tiliaceus, Sterculia foetida,
Alstonia scholaris, Pterospernum javanicum dan Erytrina variegata (Waryono, 2002).
Sungai itu terbentuk degan adanya
aliran air dari satu atau beberapa sumber air yang berada di ketinggian,
umpamanya disebuah puncak bukit atau gunung yang tinggi ,dimana air hujan
sangat banyak jatuh di daerah itu,kemudian terkumpul dibagian yang cekung ,lama
kelamaan dikarenakan sudah terlalu penuh ,akhirnya mengalir keluar melalui
bagian bibir cekungan yang paling mudah tergerus air, selanjutnya air itu akan
mengalir di atas permukaan tanah yang paling rendah, mungkin mula mula
merata,namun karena ada bgn bgn dipermukaan tanah yang tidak begitu keras, maka
mudahlah terkikis, sehingga menjadi alur alur yang tercipta makin hari makin
panjang, seiring degan makin deras dan makin seringnya air mengalir di alur
itu, maka semakin panjang dan semakin dalam ,alur itu akan berbelok, atau bercabang,
apabila air yg mengalir disitu terhalang oleh batu sebesar alur itu, atau batu
yg banyak, demikian juga degan sungai di bawah permukaan tanah, terjadi dari
air yang mengalir dari atas, kemudian menemukan bagian-bagian yang dapat di
tembus ke bawh permukaan tanah dan mengalir ke arah dataran rendah yang rendah,
lama kelamaan sungai itu akan semakin lebar
Air yang berada di permukaan daratan, baik air hujan, mata air, maupun cairan gletser, akan mengalir melalui sebuah saluran menuju tempat yang lebih rendah. Mula-mula saluran yang dilalui ini relatif sempit dan pendek. Namun, secara proses alamiah aliran ini mengikis daerah-daerah yang dilaluinya. Akibatnya, saluran ini semakin lama semakin lebar dan panjang, dan terbentuklah sungai.Proses Perkembangan Sungai Perkembangan suatu lembah sungai menunjukkan umur dari sungai tersebut.Umur di sini merupakan umur relatif berdasarkan ketampakan bentuk lembah tersebut yang terjadi dalam beberapa tingkat (stadium).Pada stadium muda pembentukan lembah mulai terjadi dengan tanda-tanda sebagai berikut.
a.
Penampang
melintang dari lembah berbentuk V, hal ini disebabkan karena daya kikis
vertikal yang kuat karena gradien masih besar.
b. Sungai masih
banyak mempunyai erosi basis sementara.
c.
Memiliki
daya angkut aliran air yang terbesar.
d. Lebar bagian
bawah lembah sama dengan lebar saluran sungai.
e.
Dasar lembah
masih belum merata.
Pada stadium
dewasa lembah sungai akan memiliki ciri sebagai berikut.
a.
Gradien
sungai menjadi lebih kecil.
b.
Erosi yang
berperan penting adalah erosi lateral, sedangkan erosi vertikal praktis sudah
tidak terjadi.
c.
Pada bagian
akhir stadium dewasa sungai sudah mengalami pendataran dasar sungai.
d.
Lembah
sungai berbentuk U melebar, yang ukuran lebarnya melebihi dalamnya sungai.
e.
Pada dasar
lembah terdapat dataran banjir (flood plain) dan terdapat kelokan-kelokan
sungai (meander).
f.
Sudah tidak
terdapat erosi dasar sungai, karena dasar lembah sungai sudah merata.
Pada stadium
tua sungai memilik ciri-ciri sebagai berikut.
a.
Gradien
sungai sudah menjadi kecil.
b.
Erosi yang
berperan adalah erosi lateral dan lembah sungai berbentuk U melebar.
c.
Terbentuk
dataran banjir.
Air merupakan sumber kehidupan.Ini
berarti banyak mahluk hidup yang tidak dapat tumbuh dan berkembang karena
kekurangan air. Adapun manfaat sungai sebagai salah satu bentangan perairan
darat, mulai dari yang sederhana seperti keperluan minum, mandi, dan mencuci,
hingga kebutuhan yang lebih kompleks, seperti:
a.
Irigasi atau pengairan
Khususnya di daerah kering orang
membutuhkan air untuk mengairi sawah.Dalam sistem pertanian intensif sekarang
ini, di daerah basah pun perlu pengairan agar diperoleh hasil yang lebih
menguntungkan.
b.
Sumber tenaga
Di daerah industri yang kondisinya
memungkinkan, air dimanfaatkan sebagai penggerak turbin yang dihubungkan dengan
generator, sehingga menghasilkan pembangkit tenaga listrik (PLTA).
c.
Keperluan domestik
Air dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan primer rumah tangga, seperti air minum, memasak, mencuci, mandi.
Bahkan bagi masyarakat kota, air juga dipergunakan untuk menyiram tanaman dan
rumput hias di halaman.
d.
Sebagai sumber penghasil bahan
makanan mentah
Di sungai terdapat bermacam-macam
ikan, udang, dan sebagainya yang dapat dijadikan sebagai sumber bahan makanan.
e. Industri
Sebagian besar industri, terutama di daerah perkotaan air juga sangat penting sebagai pencuci bahan dasar, pencair, atau pelarut bahan.
Sebagian besar industri, terutama di daerah perkotaan air juga sangat penting sebagai pencuci bahan dasar, pencair, atau pelarut bahan.
f. Transportasi
Sejak zaman dahulu, manusia telah memanfaatkan air sebagai sarana perhubungan. Sebab, hingga sekarang transportasi di perairan relatif lebih murah.
Sejak zaman dahulu, manusia telah memanfaatkan air sebagai sarana perhubungan. Sebab, hingga sekarang transportasi di perairan relatif lebih murah.
g.
Rekreasi dan olah raga
Di sungai-sungai atau danau orang
mengadakan rekreasi dan sekaligus merupakan sarana olah raga, seperti berenang,
dayung, arung jeram, selancar angin, dan sebagainya
Pencemaran sungai adalah tercemarnya
air sungai yang disebabkan oleh limbah industri, limbah penduduk, limbah
peternakan, bahan kimia dan unsur hara yang terdapat dalam air serta gangguan
kimia dan fisika yang dapat mengganggu kesehatan manusia.Pada
hakikatnya antara aktifitas manusia dan timbulnya pencemaran terdapat hubungan
melingkar berbentuk siklus. Agar dapat hidup dengan baik manusia beradaptasi
dengan lingkunganya dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia
mengembangkan teknologi, akibat sampingan dari pengembangan teknologi adalah
bahan pencemaran yang menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan. Pencemaran
lingkungan ini merupakan stimulus agar manusia menyesuaikan diri terhadap
lingkungan.
Pencemar
sungai dapat diklasifikasikan sebagai organik, anorganik, radioaktif, dan
asam/basa.Saat ini hampir 10 juta zat kimia telah dikenal manusia, dan hampir
100.000 zat kimia telah digunakan secara komersial.Kebanyakan sisa zat kimia
tersebut dibuang ke badan air atau air tanah.Pestisida, deterjen, PCBs, dan
PCPs (polychlorinated phenols), adalah salah satu contohnya.Pestisida dgunakan
di pertanian, kehutanan dan rumah tangga.PCB, walaupun telah jarang digunakan
di alat-alat baru, masih terdapat di alat-alat elektronik lama sebagai
insulator, PCP dapat ditemukan sebagai pengawet kayu, dan deterjen digunakan
secara luas sebagai zat pembersih di rumah tangga.
1. Meracuni sumber air minum
Misalnya air yang tercemar oleh
logam-logam berat yang masuk ke dalam tubuh melalui minuman dapat
tertimbun dalam organ-organ tubuh seperti ginjal, hati, limpa, saluran
pencernaan lainnya sehingga mengganggu fungsi organ tubuh tersebut. Selain itu
pencemaran yang disebabkan oleh zat radioaktif dapat menyebabkan penyakit
kanker serta merusak sel dan jaringan tubuh lainnya.
2. Mengakibatkan penularan penyakit
Yaitu air yang tercemar oleh virus
dan bakteri.Misalnya bakteri coli yang dapat menyebabkan penyakit saluran
pencernaan (disentri, kolera, diare, types) atau penyakit kulit.
3. Merusak ekosistem air (membunuh ikan-ikan dan
organisme dalam air lainnya)
Yaitu disebabkan oleh beberapa
faktor diantaranya:
Disebabkan karena penguraian sampah
organik yang dalam penguraiannya memerlukan banyak oksigen sehingga kandungan
oksigen dalam air menjadi semakin sedikit yang mengakibatkan ikan-ikan dan
organisme dalam air kekurangan oksigen dan akhirnya mengakibatkan kematian.
Bahan pencemaran organik yang tidak
dapat diuraiakan oleh mikroorganisme sehingga akan menggunung dan mencemari air
sungai yang dapat mengganggu kehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup di
dalamnya.
Bahan pencemaran berupa makanan
tumbuh-tumbuhan yang dapat menyebabkan tumbuhnya alga (ganggang) dan tumbuhan
air separti enceng gondok dengan pesat sehingga menutupi permukaan air yang
mengakibatkan kadar oksigen dan sinar matahari berkurang karena terhalang dan
tidak dapat masuk ke dalam air sehingga mengganggu kehidupan akuatik
(organisme, ikan, dan tanaman dalam air).
Bahan pencemaran berupa kondisi
(misalnya panas) yang menyebabkan suhu air meningkat sehingga tidak sesuai
untuk kehidupan akuatik. Tanaman, ikan dan organisme yang mati ini akan
terurai menjadi senyawa-senyawa organik yang dalam proses penguraiannya
memerlukan banyak oksigen sehingga terjadi penurunan kadar oksigen dalam air.
Bahan pencemaran berupa
endapan/sedimen yang menyebabkan air menjadi keruh, masuknya sinar matahari
berkurang, air kurang mampu mengasimilasi sampah sehingga mengganggu kehidupan
akuatik.
4. Mengakibatkan terjadinya bencana alam
Seperti banjir yang diakibatkan
karena tersumbatnya aliran sungai oleh sampah masyarakat sehingga merugikan
kehidupan masyarakat itu sendiri dan makhluk hidup lain di sekitarnya.
1.
Melestarikan hutan di hulu sungai
Agar
tidak menimbulkan erosi tanah disekitar hulu sungai sebaiknya pepohonan tidak
digunduli atau ditebang atau merubahnya menjadi areal pemukiman penduduk.
Dengan adanya erosi otomatis akan membawa tanah, pasir, dan sebagainya ke
aliran sungai dari hulu ke hilir sehingga menyebabkan pwendangkalan sunmgai.
2.
Tidak buang air di sungai
Buang
air kecil dan air besar sembarangan adalahperbuatan yang salah.Kesan pertama
dari tinja atau urin yang dibuan sembarangan adalah bau dan menjijikan.Tinja
juga merupakan medium yang paliang baik untuk perekembangan bibit penyakit dari
yang ringan sampai yang berat, oleh karena itu janganlah buang air besar
sembarangan khususnya di sungai.
3.
Tidak membuang sampah di sungai
Sampah
yabng dibuang sembarangan di sungaiakan menyababkan aliran air di sungai
terhambat. Selain itu juga sampah akan menyebabkan sungai cepaa dangkal dan
akhirnya memicu terjadinya banjir di musim penghujan sampah juga membuat sungai
tampak kotor menjijnikan dan terkontaminasi
Sungai adalah aliran air tawar yang
mengalir melalui terusan alami dan kedua pinggirnya di batasi tanggul-tanggul
alami yang akhirnya mengalir kelaut atau sungai induknya.Sungai merupakan jalan air alami.mengalir menuju Samudera, Danau atau laut, atau ke
sungai yang lain.
Jenis-jenis
sungai dapat dilihat dari klasifikasi sungai itu sendiri. Sungai juga memiliki
struktur, dimana struktur sungai sangat di pengaruhi oleh jumlah dan kecepan
aliran sungai beserta proses terbentuknya sungai.
Sungai
juga memiliki fungsi :
1. Transportasi
2. Rekreasi
3. Irigasi
4. Industri
5. Pembangkit
listrik, dll.
Pencemaran air sungai adalah masuk atau dimasukkannya
sesuatu yang dapat merubah tatanan (komposisi) air ke dalam aliran sungai.
Secara garis besar cara mencegah pencemaran air sungai di Indonesia adalah
menyadarkan masyarakat Indonesia itu sendiri akan pentingnya air sungai bagi
makhluk hidup serta dampak buruk yang ditimbulkan jika air sungai tercemar. Sehingga
mereka mau menjaga dan merawat aliran sungai dengan penuh kesadaran.
Melihat sungguh banyaknya manfaat
sungai bagi kehidupan, maka kita selaku mahkluk yang sempurna marilah kita jaga
kealamian sungai.
_______________; 2002.Struktur
Lansekap Bantaran Sungai di DKI Jakarta. Program Studi Biologi Konservasi
Departemen Kehutanan Samarinda. FMIPA Universitas Indonesia.
Forman; Richard and Michel Gordon.
1983. Lansdcape Ecology. John Wiley & Son; New York.
http://alamendah.wordpress.com/2010/09/27/penyebab-dan-dampak-pencemaran-air-oleh-limbah-pemukiman/( di akses pada 3/13/13 18: 51 )
http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/chapter_ii/07640002-afifatuz-zakiyyah.ps (di akses pada 3/10/13 18:40 )
http://weblogask.blogspot.com/2012/05/pencemaran-sungai-pengertian-penyebab.html( di akses pada 3/10/13 18:48 )
http://www.anneahira.com/cara-mencegah-pencemaran-air.htm( diakses pada 3/10/13 18:59 )
http://www.anneahira.com/cara-penanggulangan-pencemaran-air.htm( di akses pada 3/10/13 19:11)
Katili, J.A; 1950.
Geologi.Jakarta; Departemen Urusan Riset Nasional.
Lebeck, A.K,. 1939. Geomorphologi.
New York: Grw Hill. Negeri (Publikasi 437).
Pannekoek, A.J.Dr. 1949. Outline of
the Geomorphology of Java. TKNA, Genootsch. LXVI.
Sandy, IM, 1985. DAS-Ekosistem
Penggunaan Tanah.Publikasi Direktorat
Taguna Tanah Departemen Dalam
Thornbury, William,
D; 1973. Principle of Geomorphologi. New York: Grw Hill.
Waryono.Tarsoen; 1985. Analisis
Vegetasi Riparian (Studi Kasus DAS
Mahakam Bagian Hilir). Litbang
LAMPIRAN
A. TANYA JAWAB
B.
BIODATA
1.
Nama : Iis Haerunisa
TTL : Ciamis, 22 Maret 1999
Alamat :
Golat Landeuh 03/04
Hobi :
Olahraga, Mendaki, Berpetualang, Jalan
jalan, Berkumpul dengan orang-orang yang shaleh.
Cita-cita :
Guru, Pengusaha, Istri yang shalihah
Makanan fav :
Baso
Minuman fav :
Air teh hangat
Yang disukai :
Mawar, Eddelweis, Doraemon
Warna Fav :
Merah
Moto Hidup :
Jadilah orang yang Beruntung, yang lebih
baik dari sebelumnya!
Nothing is Impossible
Nothing is Impossible
Motivasi hidup :
Allah, Rosul, Orang tua, Sahabat, Teman,
Cita-cita dan Surga
2.
Nama :
Melly Noviany
TTL :
Bandung,09/06/1998
Alamat :
Dusun Nanggerang,
RT/RW 04/04, Desa Sukasetia Kecamatan Cihaurbeuti Ciamis
Hobi :
Menyanyi, membaca
novel, bermain
Cita-cita : Dokter Gigi
Warna Favorit : Hitam, merah
Makanan Fav : Baso, mie
Motto Hidup : Kecil bahagia, besar hura
hura,
mati masuk surge
3.
Nama : Reni Yulianti
TTL :
Tasikmalaya, 09 Juli 1998
Alamat :
Kampung Sindangharja, Ciawi, Tasikmalaya.
Hobi : Membaca, Mendengarkan musik KPOP.
Cita-cita : Menjadi Orang yang sukses.
Makanan Fav : baso
Minuman Fav : Teh
Warna fav :
Hitam dan Biru
Motto :
Kegagalan adalah kunci kesuksesan
4.
Nama :
Neng Reny Juanti
Alamat : Cigorowong 02/02
TTL : Ciamis, 28 November 1998
Hobi :
Shopping, Berkumpul, mendengarkan music
Cita-cita :
Dokter
Makanan fav :
Mie ayam, nasi goreng
Minuman fav :
Air putih
Warna fav :
Putih, biru
Motto :
Selalu Bahagia
5. PHOTO-PHOTO

Komentar
Posting Komentar