EDUKASI PENCEGAHAN COVID-19 DI DESA GOLAT
Oleh : Iis Haerunisa (1702081)
DPL
: Drs. H. Ahmad Mulyadiprana, M.Pd
Dalam
Tri Darma perguruan tinggi disebutkan salah satu tugas mahasiswa ialah
melakukan Pengabdian Pada Masyarakat. Kegiatan ini sangat diperlukan untuk
membantu menyelesaikan masalah-masalah social yang masih dimiliki bangsa.
Khususnya pada tahun 2020 ini, seluruh Negara di Dunia termasuk Tanah Air
sedang dilanda musibah beruba wabah Virus Covid-19. Sampai Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan
virus Covid-19 ini sebagai pandemic atau
skala penyebaran penyakit yang terjadi secara global di seluruh dunia.
Pergerakan
virus yang mudah menyebar menyebabkan lonjakan angka positif bertambah pesat.
Khususnya di Indonesia sejak dua kasus pertama COVID-19 yang diumumkan pada 2
Maret 2020, jumlah kasusnya terus meningkat tersebar di 32 provinsi. Per 26
Juni 2020 terkonfirmasi terdapat 51.427 kasus positif, dengan korban meninggal
sebanyak 2.683 orang dan pasien sembuh sebanyak 21.333 orang.
Jumlah
pasien COVID-19 yang terus meningkat tanpa terkendali membuat pemerintah
Indonesia mengeluarkan kebijakan
Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB pada awal Mei. Beberapa kebijakan
dalam diantaranya 1) Kegiatan sekolah dan bekerja dilakukan di rumah; 2)
Pembatasan kegiatan keagamaan; 3) pembatasan kegiatan di tempat/fasilitas umum;
4) Pembatasan kegiatan sosial dan budaya; 5) Pembatasan moda trasportasi; 6)
Pembatasan kegiatan aspek lainnya khusus terkait aspek pertahanan dan keamanan.
Kebijakan
PSBB ini berdampak terhadap kurva Covid-19, khususnya Jawa Barat yang pada
awalnya menduduki menduduki peringkat ke 2 di RI sekarang per tanggal 26 Juni
2020 mulai turun pada peringkat 5 di RI dan grafiknya mulai mengalami
penurunan.
PSBB
ini berdampak pada sector terkhusus ekonomi, ketika virus ini hadir daya jual
beli masyarkat mulai turun. Maka dari itu pada awal Juni 2020 Pemerintah mulai
membuat kebijakan New Normal atau
kebiasaan normal baru dibeberapa wilayah untuk pemulihan beberapa sector,
khususnya ekonomi. Kebijakan New Normal pun
tetap membatasi pergerakan kita dalam beraktivitas, seperti jangan berkerumun,
selalu jaga jarak, memakai masker serta rajin cuci tangan dengan benar.
Disini peran masyarakat, RT, RW dan aparat desa bahu-membahu bersama memberikan pemahaman betapa bahayanya virus ini dan wajib hukumnya bagi kita menjaga diri dari virus Covid-19. Disiplin merupakan kunci keberhasilan pencegahan covid-19.
Namun
bagi orang mengerti peluang, kebijakan yang menghauskan kita lebih baik dirumah
aja, membuat banyak orang lebih kreatif untuk bertahan hidup. Menanam sayuran
di pekarangan rumah merupakan salah satu peluang selama pandemic yang dapat
kita andalkan.
Dilansir
dari antaranews.com Menurut Anton Mantan Mentri Pertanian “Sebaiknya bertanam
sayur karena masa panen lebih cepat dan pemeliharaannya lebih mudah, serta
tidak membutuhkan lahan yang luas bahkan di pekarangan rumah juga dapat
dilakukan sehingga ideal untuk kawasan Jabotabek”. Diharapkan setelah pandemic ini
berakhir, masyarakat mampu berdaya saing dalam pangan, dan Indonesia bisa
menjadi eksportir sayuran terbesar di asia.
Desa
Golat terletak dikaki gunung sawal dengan geografis banyak pesawahan dan
perkebunan. Hal ini cocok sekali bagi desa golat untuk memajukan sector pertanian
di tengah pandemic.
Referensi
:
https://www.antaranews.com/berita/1530112/bertanam-dinilai-jadi-solusi-penghasilan-di-tengah-pandemi

Komentar
Posting Komentar